Tampilkan postingan dengan label Madrasah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Madrasah. Tampilkan semua postingan

Daftar Urut ( Long List ) Calon Peserta SERTIFIKASI

0 comments


Daftar Urut Prioritas (Long List) Sementara Calon Peserta Sertifikasi Guru Madrasah untuk Provinsi D.I. Yogyakarta bisa di-download di sini.
Untuk Daftar Urut Prioritas (Long List) Sementara Calon Peserta Sertifikasi Guru Madrasah provinsi lain di seluruh wilayah Indonesia bisa diunduh pada daftar di bawah ini:

Silahkan Download

Eksistensi Madrasah

0 comments

 

EKSISTENSI MADRASAH DI ERA MODERN 

 

Masyarakat kita saat ini sudah modern dan maju dalam banyak segi kehidupan terutama sosial budaya. Saat ini tolak ukur masyarakat dalam memandang nilai-nilai budaya sudah semakin jelas dan mengerucut pada pemenuhan kebutuhan material semata yang dalam hal ini diwakili oleh atau atas nama kepentingan ’ekonomi’. Padahal sejujurnya dan yang selalu kita dengung-dengungkan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang bermoral, beradab dan berbudaya, atau lebih tegasnya bangsa yang religius. Ini tampak jelas pada sila pertama dan kedua dalam Pancasila yang merupakan dasar negara ini.
Di era yang sudah modern ini, madrasah sebagai lembaga pendidikan yang mengedepankan moralitas dan nilai-nilai keagamaan sebagai basis konsentrasi pengembangan pendidikannya masih dipandang sebelah mata oleh kebanyakan masyarakat kita, mereka lebih memilih untuk menyekolahkan putra-putri mereka di sekolah umum yang dianggap lebih jelas dan lebih terarah tujuan pendidikannya. Lemahnya eksistensi madrasah atau pendidikan keagamaan pada umumnya merupakan sebuah akibat dari kelemahan sistemik yang dibangun oleh negara ini pada sektor pendidikan. Merujuk pada akar sejarah munculnya madrasah adalah sebagai reaksi atas pola pendidikan yang dibangun oleh pemerintahan Belanda di zaman penjajahan, maka sudah seharusnya kita merefleksikan kembali spirit tersebut dalam mengembangkan madrasah. Dengan tugas utama meraih kembali citra positif sebagai model pendidikan lokal yang kental dengan nuansa lokal dan tentunya seiring sejalan dengan karakter kebangsaan Indonesia sebagai bangsa yang bermoral. Karena pendidikan pada hakikatnya adalah proses pembentukan watak individu, maka lembaga pendidikan sudah semestinya menjadi lingkungan positif bagi pertumbuhan watak generasi bangsa ini, bukan semata menjadi training center untuk memenuhi kebutuhan industri atau lapangan pekerjaan yang juga belum cukup signifikan keberadaannya sebagai penopang struktur ekonomi kebangsaan.
Medidik generasi adalah merencanakan apa dan bagaimana bentuk generasi mendatang serta disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Berangkat dari cita-cita pembentukan negara ini demikianlah seharusnya generasi bangsa diproses dalam dunia pendidikan yang melliputi pembentukan karakter, pengembangan potensi, dan eksplorasi sumberdaya manusia. Tiga tahapan inilah yang seharusnya diletakkan secara simbang satu sama lain dalam rangka memenuhi keseimbangan unsur pendidikan rohani dan jasmani, pendidikan ukhrowi dan duniawi.
Saat ini jika kita kembali pada kenyataan bahwa madrasah kita masih memiliki banyak kesan ’negatif’ dalam perspektif masyarakat modern, maka perlu kita rumuskan kembali pengertian modernitas dalam perspektif pendidikan untuk kemudian mengaransemen kembali tata laksana pendidikan yang seharusnya diterapkan bagi generasi kita, khususnya pendidikan keagamaan sebagai basis ide model pendidikan madrasah.
Beberapa konsep pengembangan yang pada mulanya menjadi ciri khas dari madrasah saat ini perlahan hilang dan beralihdengan sedikit modifikasi menjadi ciri sekolah-sekolah yang mengambil klaim umum, hal ini disadari atau tidak bukan semata mengakibatkan degradasi nilai madrasah akan tetapi juga mengikis keabsahan madrasah sebagai cikal bakal model pendidikan yang secara historis melekat dengan bangsa Indonesia, karena madrasah bukan ciptaan Belanda dan juga bukan buatan Jepang tetapi hasil ijtihad para ulama madrasah dalam menjembatani kepentingan masyarakat dengan dunia pendidikan dan pemerintah pada saat itu. Atau setidaknya kalaupun model madrasah akan tetap bertahan dalam desakan modernitas sosial dan budaya masyarakat maka nilai-nilai keagamaan yang menjadi landasan utama kurikulum madrasah akan terdegradasi.
Di antara dua sisi kecenderungan inilah kondisi madrasah saat ini mengikuti perubahan mutlak dan tercerabut dari akar historisnya atau bertahan dan tertinggal dari model pendidikan lainnya karena dianggap tidak mampu merespon kebutuhan masyarakat modern. Mengingat betapa kuatnya tarikan ideologis antar keduanya dan untuk tidak kembali terjebak pada perseteruan ide yang tidak produktif, madrasah harus bisa diposisikan sebagai institusi netral yang tidak terbebani oleh hegemoni masa lalu dan juga kepentingan modernitas. Kebijakan dan langkah-langkah yang diambil oleh semua pihak baik pemerintah ataupun pengelola harus dilakukan dalam koridor penguatan internal kelembagaan sebagai modal dasar penguatan basis ide dan konseptualisasi model pengembangan madrasah.

Dengan mengangkat kesadaran akan urgensi madrasah sebagai model pendidikan moralitas bangsa yang kian kering di era modern ini sekaligus benteng pembentukan karakter generasi masa depan sudah seharusnya ini menjadi agenda strategis dalam konsep pendidikan bangsa ini, yaitu dengan memposisikan madrasah sejajar dengan model pendidikan umum dalam undang-undang negara sehingga kemudian diharapkan akan berproses menuju penemuan kemballi makna yang hilang dari madrasah sebagai institusi pendidikan yang mengakar di masyarakat, mewakili kepentingan masyarakat dan juga menjadi kebanggaan masyarakat.

Madrasah Gratis Diputuskan Pertengahan 2011

0 comments

(www.kemenag.go.id) - Menteri Agama Suryadharma Ali menyatakan, pihaknya saat ini secara serius merancang agar siswa madrasah memperoleh pendidikan secara gratis. Diharapkan pertengahan tahun 2011 keputusan madrasah gratis dapat terwujud, apakah secara keseluruhan atau sebagian yang gratis.


"Kami berharap antara bulan Juni-Juli 2011 ada kesimpulan, (madrasah) digratiskan keseluruhan atau sebagian," kata Menag pada acara penandatangan kesepakatan bersama antara Menteri Agama dan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak tentang Pelaksanaan pengarustamaan jender dan pemenuhan hak anak di bidang keagamaan di Jakarta, Senin (24/1).


Oleh karena itu, lanjutnya, Kementerian Agama saat ini sedang menghitung berapa dampak biaya apabila madrasah gratis, baik uang muka maupun uang bulanan. "Sekarang kan rada-rada semu. Disebut gratis, ada uang suka rela," kelakarnya.


Dalam kesempatan itu Menteri Agama kembali mengemukakan program gerakan masyarakat maghrib mengaji, yaitu gerakan akan masyarakat kembali seperti di masa silam, mengisi waktu antara maghrin sampai isya dengan pola hidup yang religius.


"Tidak seperti sekarang diganti dengan sinetron maghrib," ujarnya.


Gerakan ini, kata menteri dapat disingkat GM3 merupakan pemenuhan hak anak, sehingga terwujud anak-anak yang berkualitas dan soleh. "Kita harus takut meninggalkan anak-cucu yang lemah baik fisik maupun pendidikan," terang Suryadharma Ali. (ks)

Diupload oleh : ra (-) | Kategori: Menteri Agama | Tanggal: 26-01-2011 14:27

Habib Syeh

Info Haji DIY

Info Lelang

Sertifikasi

Majalah Bakti